Prohaba.co
Dituduh Dukun Santet,Massa Bakar Usaha Gilingan Tebu
Kamis, 21 November 2013 10:25 WIB
memperhatikan-mesin.jpg
Warga memperhatikan mesin usaha penggilingan tebu secara tradisional menggunakan lembu di Gampong Adan Dayah, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, Rabu (20/11), telah dibakar massa. Pembakaran tersebut karena warga menuduh yang mengelola usaha tersebut sebagai dukun santet. PROHABA/M NAZAR

* Karena Banyak Warga Teumamong
* Jinnya Sering Sebut Nama MY

SIGLI - Usaha gilingan tebu tradisional menggunakan lembu di Dayah Adan, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, Selasa (19/11), sekira pukul 16.45 WIB, dibakar massa. Aksi itu dilakukan lantaran warga menuduh MY (65), pengelola usaha tersebut, sebagai dukun santet.

Tuduhan tersebut menderas setelah ada warga yang yang menyebutkan, MY telah melakukan praktik guna-guna. Bahkan, sepuluh warga Dayah Adan disebut-sebut sempat kerasukan roh halus sambil menyebut nama MY dan istrinya.

Karena isu tersebut, warga berang dan menyerang tempat usaha  MY. Akibatnya, usaha gilingan tebu tradisional menggunakan lembu tersebut rata dengan tanah setelah dibakar massa. Hanya sisa puing yang terbakar seperti belanga besar dan mesin gilingan yang masih terlihat. Namun, telah jadi arang.

Di samping usaha gilingan tebu, kandang sapi milik MY juga rata dengan tanah. Sementara rumah MY yang berjarak 40 meter dengan lokasi usaha gilingan tebu itu, masih berdiri. Rumah yang dibatasi lorong dengan tempat usahanya tersebut dalam kondisi kosong dan telah dipasang police line.

Kapolsek Mutiara Timur, AKP Recky Elfian, mengatakan tuduhan dukun santet terhadap MY telah terjadi dua hari lalu. Mendengar informasi tersebut, Muspika Mutiara Timur langsung mendatangi lokasi.

“Kapolres juga datang ke Dayah Adan untuk menenangkan warga agar tidak melakukan tindakan anarkis,” kata Recky kepada Prohaba, Rabu (20/11).

Ketika Muspika Mutiara Timur bersama Kapolres hendak menyampaikan pengarahan di masjid, tiba-tiba seorang warga teumamong (kerasukan-red). Bahkan, dalam hitungan menit, jinnya juga merasuk warga lain. “Sekitar 10 warga kerasukan malam itu. Saat itu terjadi, MY juga berada di masjid tersebut,” kata Recky.

Namun, kata Recky, pada Selasa (19/11), sekira pukul 16.30 WIB, massa mengamuk. Puncaknya, membakar usaha gilingan tebu tradisonal yang dikelola MY dan kandang sapi miliknya. “Saat ini, polisi sedang melidik oknum masyarakat yang membakar usaha tersebut. Kami belum mengantongi pelakunya. Jika terbukti, tetap kami proses hukum,” katanya.

Dia menyatakan, tuduhan dukun santet terhadap MY tidak dapat dibuktikan secara hukum. “Untuk sementara, MY bersama keluarganya telah diserahkan ke saudaranya. Karena masyarakat di gampong tersebut tidak menginginkan MY tinggal di gampong itu lagi,” katanya.

Berdasarkan pengakuan MY pada Recky, dia memang sering merajah anak sakit jika ada yang membawa padanya. Tapi, MY bersumpah tidak pernah peukeunong (menyantet-red) orang. “Saya berani sumpah, tidak pernah menyantet orang,” kata Kapolsek mengutip pengakuan MY.(naz)

Editor : bakri