Prohaba.co
Anak Penebang Pohon Raksasa Meninggal
Rabu, 23 November 2016 16:15 WIB
* Diduga Pengaruh Gaib dari Jin Penunggu

BLANGPIDIE - Sarah Ali, penebang pohon raksasa berusia ratusan tahun yang tumbuh rindang di depan Asrama TNI Kodim 0110 Aceh Barat Daya, shock saat mendengar anaknya kabar anaknya meninggal. Dia sempat tak percaya jika Juliandi (24), putra keempat dari tujuh bersaudara, telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Bahkan, Sarah meyakini, ada pengaruh gaib dari si penunggu pohon mistis itu yang menyebabkan anaknya tewas setelah sakit secara tiba-tiba.

Sejak sebulan terakhir, Juliandi bekerja bersama kakaknya yang menetap di Kualo Umu, Kecamatan Simeulue Timur, Simeulue. Sebelum meninggal, pria lajang itu menderita panas tinggi. Dari mulutnya keluar darah. Nyawanya pun tak tertolong.

Sarah Ali mempercayai Juliandi sakit lantaran dirinya menebang pohon raksasa itu yang dipercayai oleh sebagian masyarakat memiliki ‘penunggu’ itu. Menurut Sarah, setelah ia menerima order sanggup menebang pohon besar yang dikaitkan dengan hal mistis tersebut, beberapa anak Sarah Ali sakit tiba-tiba. Namun masih tertolong dengan bantuan Allah.

Akan tetapi, jiwa Juliandi tidak tertolong. Juliandi sendiri semasa hidupnya dikenal sebagai salah seorang pemain sepakbola di Padang Baru, Susoh. Sebelum bekerja di Simulue, Juliandi tinggal bersama Sarah di Kompleks Base Camp Pulau Kayu/Padang Baru, Susoh.

Meski sejak awal Sarah Ali mendapat gangguan berupa anaknya yang sakit mendadak, tak menyurutkan niatnya untuk menebang pohon itu. Alhasil, pada Kamis (17/11) lalu, dia tetap menjalankan tugasnya. Menurut dia, pohon yang disebut oleh sebagian orang dihuni makluk halus itu, hanya klaim tanpa dasar. 

“Saya tetap melanjutkan penebang pohon besar itu sebagaimana kontrak yang telah saya teken,” ujarnya ketika dihubungi Prohaba, Selasa (22/11).

Akan tetapi, proses penebangan yang telah berlangsung selama dua hari itu, terhenti sementara pada Sabtu (19/11) malam. “Saya terpaksa menghentikan sementara menebang pohon kayu tersebut karena anak kandung saya di Sinabang meninggal dunia,” kata Sarah.

Menerima kabar duka tersebut, Sarah bertolak ke Sinabang dengan memboyong 10 anggota keluarganya, menumpang kapal Feri dari Labuhan Haji. Rencananya, Sarah kembali lagi ke Aceh Barat Daya pada Sabtu depan, setelah tujuh hari Jualiandi meninggal.

Pascaitu, dia bermaksud menggelar sedikit acara di kediamannya di Pulau Kayu/Padang Baru. Kemudian, Sarah akan melanjutkan kembali pekerjaan menebang pohon.(nun)

Editor : bakri