Prohaba.co
Tim Gabungan Bubarkan Organ Tunggal
Selasa, 28 Agustus 2018 11:35 WIB
LANGSA - Tim gabungan dari Dinas Syariat Islam, Wilayatul Hisbah (WH), dan Polres Langsa, membubarkan pertunjukan organ tunggal di Dusun Bukit, Paya Bujok Seleumak, Kecamatan Langsa Baro, Senin (27/8) dini hari. Sementara penyelenggara berdalih, show organ tunggal di sekitar hutan kota dan water park itu dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kepala Dinas Syariat Islam Langsa, Ibrahim Latif, menyebutkan pihaknya dihubungi warga yang merasa terganggu dengan pementasan organ tunggal hingga pukul 1.00 WIB. Bahkan, Ibrahim menuduh, pada show organ tunggal tersebut diiringi mabuk-mabukan. Tak hanya itu, penyanyi dan penonton bercampur-baur antara laki-laki dan perempuan, ditambah para biduanita berpakaian serba ketat dan seksi.

Saat petugas gabungan tiba ke lokasi, acara sedang berlangsung. Para pengunjung pun tengah bernyanyi  dan berjoget. Karena penonton ramai sekali, untuk menghindari hal yang tak diinginkan, petugas melakukan pendekatan ke pihak penyelenggara.

Namun, panitia dan penonton yang diduga dalam pengaruh alkohol kian beringas. Mereka memaki dan menyoraki petugas. Akibatnya, adu mulut dan saling dorong pun terus terjadi.

Suasana kian panas saat petugas tetap berusaha membubarkan organ tunggal itu. “Akhirnya, berkat kerja sama petugas Dinas Syariat Islam, WH, dan aparat Polres, sekira pukul 02.00 WIB, organ tunggal tersebut pun dihantikan,” ujarnya.

Menurut Ibrahim Latif, peminum minuman keras sangat bertentangan dengan qanun Syariat Islam. Sesuai Pasal 5 Qanun Nomor 3 tahun 2016 tentang penyelenggaraan hiburan, penyelenggara hiburan tanpa izin dari pihak berwajib, dapat dituntut pidana.

Terkait hal tersebut, Ibrahim telah membuat laporan tertulis ke Polres Langsa untuk penindakan lebih lanjut kepada pihak penyelenggara yang telah melanggar qanun Kota Langsa ini.

Ibrahim pun menyelahkan aparataur gampong setempat. “Kami menyesalkan perangkat gampong setempat membiarkan acara maksiat itu berlangsung. Seharusnya, mereka melarang dan melaporkan jika tidak bisa melarang,” tutup Ibrahim Latif.(zb) 

Editor : bakri