Prohaba.co
Korban Sebut Pelaku Pakai Sangkur Rambo
Senin, 9 September 2019 11:35 WIB
serambinews_pro_1.jpg
Hermansyah (42), didampingi dua anaknya saat dirawat di Rumah Sakit Zubir Mahmud, Aceh Timur, Minggu (8/9/2019)
* Kasus Penjual Jambu dan Es Krim Duel di Tempat Pesta

IDI - Hermansyah (42), penjual es krim yang berkelahi dengan Abdul Hadi (39), penjual jambu biji saat mereka berjualan pada lokasi pesta di Aceh Timur, menceritakan kronologi hingga lengannya luka parah terkena sabetan sangkur milik Abdul Hadi. Sebelum melukai lengannya, sebut Hermansyah, pelaku terlebih dulu mengejar dan sempat menusukkan sangkur ke pinggangnya, tapi tidak kena. Menurut korban, sangkur yang digunakan pelaku adalah sangkur Rambo.

Seperti diberitakan sebelumnya, acara resepsi pernikahan pada salah satu rumah di Gampong Seuneubok Punti, Kecamatan Idi Tunong, Aceh Timur, Rabu (4/9/2019) pagi, berubah menjadi ajang perkelahian antara dua pedagang yang sama-sama berjualan di tempat tersebut. Akibatnya, seorang dari mereka harus masuk rumah sakit karena mengalami luka parah terkena sabetan sangkur oleh pedagang lain. Sementara pelaku terpaksa mendekam di balik jeruji besi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.  

Pedagang yang terlibat duel itu adalah Hermansyah (42), penjual es krim asal Gampong Alue Ie Itam, Kecamatan Peudawa, Aceh Timur, dan Abdul Hadi (39), penjual jambu biji asal Gampong Beusa Seuberang, Kecamatan Peureulak Barat, Aceh Timur. Hermansyah harus dirawat di Rumah Sakit Zubir Mahmud, Aceh Timur, karena mengalami luka parah di lengan kanan setelah terkena sabetan sangkur yang diayunkan Abdul Hadi saat mereka berkelahi sekitar pukul 10.30 WIB. 

Menurut Hermansyah, lokasi pesta tempat mereka berjualan masuk melalui lorong sempit dan berada di atas bukit. Pada Rabu (4/9/2019) pukul 10.30 WIB, sebut Hermansyah, dirinya masuk ke lokasi pesta tersebut. Saat tiba di tempat itu, ia melihat ada lima pedagang lain yang juga menjual es krim. Karena itu, Hermansyah kemudian langsung pergi dengan tujuan berjualan di tempat lain.

Saat menyusuri kembali jalan lorong dan sempit itu, tiba-tiba masuk Abdul Hadi dan berjualan hingga menutupi jalan keluar tersebut. Hermansyah meminta pelaku untuk menggeser ke pinggir jalan, karena posisinya sedang di jalan menurun. Tapi, sambung Hermansyah, permintaan itu tidak diindahkan oleh Abdul Hadi.

"Bahkan dia bilang kepada saya, gabuek that kah, ku troem eunteuk (ribut kali kamu, saya tendang nanti). Lalu, seorang teman menarik sepmor saya di bagian belakang. Barulah saya bisa belok ke kanan dan melanjutkan perjalanan," ungkap Hermansyah.

Setelah pergi sekitar berjarak 20 meter, Herman mendengar ada orang yang memanggilnya. "Saya pikir ada orang mau beli es krim, makanya saya berhenti. Saat itulah dia (Abdul Hadi) mengejar dari belakang dan saat mendekat ia langsung menusukkan sangkur  ke pinggang saya, tapi tidak kena. Kemudian dia mengayunkan lagi sangkur tersebut hingga mengenai lengan kanan saya," ungkap Hermansyah.

Saat disangkur, menurut Herman, posisinya sedang di atas sepmor dan memakai helm. "Sekitar menit setelah kena sangkur, saya pitam lalu rebah. Saat itu saya sempat meminta bantu kepada arga. Sedangkan pelaku saat hendak pergi, langsung diamankan warga lain," jelas ayah lima anak ini.

Dalam keadaan darah mengucur dari luka akibat sabetan itu, tambah Hermansyah, sejumlah warga membantu membawa dirinya ke Puskesmas untuk dirawat. Ia tak menduga pelaku nekat melukainya dengan sangkur. "Mungkin dia (Abdul Hadi-red) marah karena saya suruh pindah ke pinggir jalan. Dia nekat karena punya dua pisau yaitu satu pisau potong buah dan satu sangkur Rambo. Dengan sangkur itulah ia melukai saya," jelas Hermansyah.

Dikatakan, ia tidak kenal dengan pelaku. Namun, sesama penjual keliling, Hermansyah mengaku seperti pernah melihat pelaku pada acara di suatu tempat. Herman meminta pihak berwenang menghukum pelaku dengan hukuman yang setimpal. Sehingga ke depan pelaku tak mengulangi perbuatan serupa yang bisa menimbulkan korban lain.

Setelah dirawat di Rumah Sakit Zubir Mahmud, Aceh Timur, selama lima hari sejak Rabu (4/9/2019), kondisi Herman kini mulai membaik. Tapi, korban belum bisa menggerakkan tangan karena lukanya dalam. Saat disambangi Serambi, kemarin, Hermansyah ditemani dua anaknya Abdul Aziz dan Yuliana. Sedangkan istri dan dua anak mereka yang lain sedang berada di rumahnya.

"Kalau digerakkan, tangan saya masih sakit. Sebab, akibat dibacok uratnya putus dan terkena tulang. Akibat sakit ini, saya tidak bisa mencari rezeki untuk istri dan lima anak saya,” ungkap Herman sedih. Saat ini, jelas Herman, dua anaknya masih bersekolah yakni Ozil Syahputra di SD dan Yuliana di SMP. 

Sedangkan Abdul Aziz hanya bersekolah hingga kelas II MAN Alue Lhok dan adiknya hanya sampai SMP. "Mau lanjutkan sekolah tidak ada biaya," ungkap Abdul Aziz. Hermansyah juga mengaku tidak mampu menyekolahkan dua anak yang putus sekolah itu karena tidak ada biaya. "Pendapatan dari menjual es krim Rp 100 ribu per hari. Itupun kalau cuaca cerah. Tapi, jika mendung tidak laku sama sekali," pungkas Hermansyah. (c49)


Editor : bakri