Prohaba.co
Lima Hari Suami Meninggal, Istri Pasok Pemuda ke Rumah
Jumat, 13 September 2019 15:44 WIB
MEULABOH - LN (28), wanita asal Desa Rundeng, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, kedapatan memasok AS (29), pemuda asal Sumatera Utara, ke rumahnya di desa tersebut. Padahal, suami LN baru lima hari meninggal dunia dan saat pasangan yang bukan muhrim itu digerebek warga setempat pada Kamis (12/9/2019) sekitar pukul 01.00 WIB, LN baru saja melaksanakan doa bersama untuk almarhum suaminya. Suami LN meninggal karena sakit di rumah keluarganya di Sumatera Utara.

Informasi yang diperoleh Prohaba, kemarin, menyebutkan, penggerebekan itu dilakukan warga karena curiga dengan kehadiran seorang pemuda ke rumah LN setelah doa bersama sekitar pukul 23.00 WIB. Sebab, setelah semua tamu undangan yang menghadiri acara tersebut pulang, ternyata pria lajang itu tak keluar dari rumah tersebut. Karenanya, warga terus memantau rumah perempuan dua anak tersebut.

Karena sudah larut malam pria itu tak juga keluar dari rumah LN, sekitar pukul 01.00 WIB Kamis (12/9/2019) dini hari WIB, sejumlah warga langsung mengerebek rumah tersebut dengan mengedor pintu yang sudah sangat lama tertutup. Setelah menggedor pintu, warga mendapati LN dan AS di dalam rumah tersebut. Setelah itu, warga langsung menggelandang mereka ke kantor desa. 

Sesampai di kantor desa, LN dan AS sempat diperiksa oleh aparatur desa dan kemudian dipanggil keluarganya. Setelah itu, pihak desa menyerahkan kasus tersebut ke wilayatul hisbah (WH) untuk diproses sesuai aturan yang berlaku. 

Hasil pemeriksaan awal, disebut-sebut LN dan AS sebelumnya sudah pernah melakukan perbuatan layaknya suami istri saat suami LN tidak ada di rumah atau ketika berada di Sumatera Utara. Dalam beberapa waktu terakhir, suami LN mengalami sakit tumor mata, sehingga dijemput keluarganya dibawa ke Sumatara Utara. Sementara AS adalah pekerja pada salah satu koperasi dan kenal dengan LN yang sehari-hari sebagai ibu rumah tangga (IRT) saat ia bertugas ke desa itu.

Keuchik Rundeng, Yuliar, yang ditanyai Prohaba, kemarin, mengatakan, penyerahan kasus itu ke WH dilakukan pihak desa atas permintaan keluarga LN agar bisa diproses sesuai aturan berlaku.

Sementara itu, personel Satpol PP dan WH Aceh Barat, Kamis (12/9/2019) sekira pukul 04.00 WIB menjemput LN dan AS untuk dibawa ke Kantor WH didampingi aparatur desa. “Setelah kami terima dari warga, kami lakukan pemeriksaan awal terhadap mereka,” kata Kabid WH Dinas Satpol PP/WH Aceh Barat, A Haris Mabrur SH, kepada Prohaba, kemarin.

Menurut pengakuan dari kedua pelaku, menurutnya, pada malam penggerebekan itu mereka belum melakukan perbuatan yang melanggar. Mereka mengaku sebelumnya pernah melakukan hubungan layaknya suami istri di rumah tersebut. “Karena mereka melanggar Qanun Jinayat, sehingga tadi siang (kemarin siang-red), keduanya kita limpahkan ke Polres Aceh Barat,” katanya.

Dikatakan, penyerahan itu dilakukan karena WH Aceh Barat belum memiliki penyidik. Sehingga prosesnya harus dilakukan oleh polisi sesuai Qanun Jinayat. “Keduanya terancam hukuman cambuk 100 kali di depan umum,” ujar A Haris.

Kapolres Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa SIK, mengatakan, pihaknya sudah menerima penyerahan dua orang pelanggar Qanun Jinayat. “Kedua pelaku masih kita periksa. Ke depan, kita juga akan memintai keterangan dari masyarakat dan keluarga kedua pelaku sebagai saksi,” pungkasnya.

Kejadian hampir sama juga terjadi di Kabupaten Pidie. Janda berinisial Fit (29), ditangkap warga saat berduaan dengan Zul (32), di rumah Fit kawasan Gampong Simpang, Kecamatan Glumpang Tiga. Zul yang masih lajang merupakan warga Gampong Baro Yaman, Kecamatan Mutiara, Pidie. 

Akibat perbuatan itu, Fit dan Zul kini harus bermalam di Kantor Satpol PP Pidie. "Saat ditangkap warga, mereka berduaan di dalam rumah. Warga memboyong Fit dan Zul ke Polsek Glumpang Tiga. Lalu, kita menjemputnya," kata Kasatpol PP dan WH Pidie, Iskandar, melalui Penyidik PNS Satpol PP dan WH, Tgk Razali, kepada Prohaba, kemarin.

Tgk Razali menjelaskan, Fit sudah memiliki suami dan satu anak. Namun, suami Fit yang merupakan warga Kembang Tanjong, Pidie, sudah 1,5 tahun tidak pernah pulang ke rumah. Dikatakan, perbuatan Fit dan Zul termasuk khalwat dan ikhtilat. "Keduanya akan diproses dengan hukum cambuk. Jumlah cambuk sesuai vonis majelis hakim Mahkamah Syar’iyah Sigli," tutup Tgk Razali. (riz/naz)

Editor : bakri